Teknologi Gadget Menjadikan Manusia Jadi Egois

 Teknologi gadget dinilai dapat membentuk pribadi manusia menjadi yang egois. Kehadiran teknologi tablet dan ponsel pintar termutakhir yang didukung internet berkecepatan tinggi 4G ini, jika tidak disikapi dengan bijak pelan-pelan namun pasti anak anak akan menjadikan sebagai pribadi yang makin dimiskinkan.

“Memang, kemajuan teknologi terutama internet membawa banyak kemudahan bagi manusia. Namun, ada juga dampak negatifnya. Bagi anak-anak kini lebih asyik bercengkrama dengan beragam aplikasi game di smartphone, tablet dan komputer. Bahkan, tidak sedikit yang kini suka nongkrong di game center hingga berjam-jam lamanya,” terang Peneliti Merapi Cultural Institute (MCI), Gendhotwukir, dalam siaran persnya, Selasa (17/5/2016).

Peneliti yang pernah mengenyam pendidikan di Philosophisch-Theologische Hochschule Sankt Augustin Jerman ini mengaku sangat khawatir dengan makin canggih dan suburnya teknologi modern yang terus merengsek ke pelosok-pelosok desa, entah melalui gadget dengan benchmark yang makin mumpuni atau dengan menjamurnya game-game center hingga di gang-gang perkampungan dan pelosok-pelosok desa.

“Permainan berbasis teknologi memang kaya sensasi, mengasyikkan dan penuh fantasi. Game-game modern menjadi lebih praktis karena tak memerlukan tanah lapang dan banyak teman seperti dalam permainan tradisional. Cukup sendirian di depan layar komputer, smartphone atau tablet, seseorang bisa terjun dalam dunia permainan yang mengasyikkan,” imbuhnya.

Namun di balik kemudahan yang didapat dari game-game modern tersebut, terang salah satu Pendiri Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM) di lereng Gunung Merapi ini, ada aspek eksistensial seseorang yang makin tersamar. Game-game modern yang makin canggih cenderung mengarahkan dan membentuk seseorang menjadi pribadi yang individualis dan egois.

“Dalam game-game modern anak bertamasya ke dunia bentukannya sendiri dan berkuasa atasnya. Tetapi sebenarnya, ia tidak mencipta fantasi maupun ilusi. Ia hanya memakai saja sarana yang sudah ada dan terformat sedemikian rupa. Ia masuk ke sebuah dunia mikrokosmos tanpa pengembaraan, tanpa keriangan dan rasa takjub. Ia hanya takjub pada citraan simulasi,” tegas peneliti yang intensif menekuni Cultural Studies ini.

“Kehadiran game-game modern membawa manusia semakin terasing dari dunia riil. Seseorang tidak perlu berinteraksi dengan orang lain untuk bermain game-game tersebut. Sendirian pun dapat bermain dan menciptakan dunianya sendiri. Dunia yang lebih hebat, lebih megah, walau sama sekali lain dengan dunia riil.

Ia menjelaskan dalam game-game modern, anak bukanlah pencipta, ia hanya pemakai. Ia digiring pada dunia mikrokosmos yang telah diprogram. Lawan yang ada bukanlah manusia, tetapi ikon-ikon dalam dunia maya yang telah diprogram. Maka, yang dihasilkan adalah kemabukan pada ikon-ikon maya, sekadar kenikmatan (ekstasi) kecepatan pengoperasian keypad, layar sentuh atau keyboard.

Satu hal yang sering tidak disadari bahwa ketika mesin-mesin yang diciptakan itu mulai menguasai manusia, nilai-nilai manusiawi pelan-pelan ditiadakan. Yang terjadi di sini yaitu pemiskinan makna bersosialisasi yang mengarah pada hilangnya kepekaan sosial. Seseorang semakin teralienasi dari lingkungan dan dunia riilnya.


Share:

0 comments:

Posting Komentar

Service Komputer

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate another link velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur.

Definition List

Definition list
Consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.
Lorem ipsum dolor sit amet
Consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.